Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Kosong

Dalam tawa aku tersenyum pahit Aku kehilangan arah..  Aku hampa Aku kosong Melihatmu adalah cara untuk membunuhku.  Merasakan sakit yang tak kunjung berhenti Ingin rasanya kumenghilang Menjauh.  Tak ada kabar.  Karena kutahu, sosokku hanyalah selingan untukmu

Hening

 Dalam ramai kudiam membisu Menatap kosong ikan bandeng yang dimakan teman sekantorku Menghirup asap rokok dan mencicip seteguk kopi hitam Dan kau disampingku Hatiku sakit saat berada disampingmu Ditusuk sembilu, mengikis hati Sambil menyeruput kopi, kau balas chatnya Sambil tersenyum..  Sambil tertawa..  Seperti tampakmu ketika bahagia menerima pesanku Sakitnya bukan main Malah kau santai memegang hpmu Ah sialan..  Ingin rasanya kubunuh..  Bukan dirimu..  Tapi perasaanku padamu.. 

Remuk

Pemberi luka Penyayat hati Kau..  Pria yang katanya akan memberikan sudut senyum di bibirku Sosok yang katanya akan membimbingku Kau hancurkan hatiku Kau remukkan jiwaku Hingga ku tak tahu bagaimana cara tersenyum Kau bunuh perasaanku Tangis akan tentangmu setiap malamku Batinku tersiksa Yang tersisa hanya bekas kecupmu yang ada ditubuhku Ah..  Aku hancur tanpamu..  Aku gila karenamu..  Tolong aku..  Aku remuk tanpamu

Penjala Lelah, Katanya

Rakyat meronta bukan urusanku Bayi terbuang bukan prioritasku Nenek terdampar, pulau tertinggal apalagi Aku koruptor! Penikmat uang, pecinta pajak Tidur di balik rapat Menyeringai di gedung DPR Kumakan roti, ah menjijikkan Kumuntahkan lagi, kuberi pada anak panti Kuselipkan air di kerongkonganku Ah bau, kubuang pada pengemis Bahkan rambutku saja, kuberikan pada tukang cukur Kurang apalagi? Aku sudah bekerja, kulelah Sejenak menikmati pijatan isteri Nanti jika ada daki, akan kuberi pada veteran di panti jompo Jika ada keringat, kuberi pada bayi kelaparan Sudah ya, jangan menangis lagi Semua sudah kuberikan, aku lelah Banyak tugas, penuh transferan Tugasku berat, aku koruptor!

Aku Posesifmu

Bukan nikmat yang kuingini Tapi candu Bukan cinta yang kuingini tapi kau Ketika sendumu menjadi nafasku Anjing liar pun takluk  Kau tahu, matamu bagaikan biji kelopak matahari Dan jantungmu bagaikan kerikil jalanan Sakit ketika diinjak Namun menjadi menjadi pondasi onggokan semen dan bata Ah, aku suka engkau! Tidak! Aku cinta kau! Bukan juga! Aku menikmatimu Aku posesifmu

Tuhan, Aku Resah

Kuterdiam di pikiran kosong Menatap hampa jemari kecilku Terniang di kepalaku akannmu Mendengar kisah baru dengan peri barumu   Tak mampu kumenahan air mata Kuteteskan butiran berlian di pipi merahku Kuhusap tapi muncul lagi Berlian kosong, rasa yang terdampar   Kuteringat akan kisah kita di rumah cinta itu Tatapanmu adalah kekuatanku Hingga kutahu bagaimana caramu tertawa   Kuresah tanpamu Kuhampa tanpa dekapanmu   Otak dan hatiku bertolak belakang Hatiku mengingatmu, tapi otak berkata lain Benih cinta yang tertanam sudah berbuah   Ah aku cinta Biarlah kuresah Karna cinta memang tak bisa memiliki  Hingga Tuhan bertindak Kita tak layak disatukan dalam janji manis   Aku dengan Tuhanku Kau dengan Tuhanmu   Selamat tinggal kasih... Sampai jumpa di masa depan Semoga kita bisa disatukan bersama Tuhan yang sama

Luka Baru

Saat ku mulai tertidur dan saat ku bangun dari tidurku, aku menikmati nya, kau di sampingku saat itu Menatap kedua bola matamu, menyentuh hidungmu dan mencium bibirmu Khayal yang pernah kuimpikan ketika pertama kali mengenalmu Bahkan ketika kau kembali ketempat mu, hanya rindu dan bibir yang masih terasa perih akibat gigitan mu yang berulang-ulang Kau lelaki pengantar bunga rinduku Kita memiliki rasa, meski saling memiliki sepasang mata yang jarang berjumpa Sejak mengenalmu, malam adalah sahabatku Entah ikatan apa yang membuat jiwa kita menyatu, padahal kita tahu raga tak mungkin berpadu Saat malam kau kekasihku, dalam khayal kau jodohku Saat jauh darimu, aku menolak untuk tidak rindu dan rinduku tidak bisa diusir Demi menembus rindu, tak kau hiraukan angin malam menembus jaketku Bukan jarak yang memisahkan kita, tapi keadaan ini menyiksa. Dahulu kau ucap, ingin menjadikanku lebih baik Menghilangkan trauma dan jejak pria biadap di hidupku Nyatanya ...

Dentuman Cinta

Desiran pasir berkumpul di tatanan hati Kasar dan perih Merengkuh dinginnya air pada kulit mungilku Kutergelitik pada bunyi ketukan Merasakan kejutan listrik pada syaraf motorik Membangkitkan adrenalin hawa nafsu Tuk tuk bunyinya Tamu tak diundang menghampiriku Mencoba membuka karatan hati  Meluruhkan pekatnya sarang laba-laba Kutertegun ingin membuka Buka tidak buka tidak, pikirku Dentuman jantung bersuara Kubuka pintu dengan perlahan Tak kudapati siapa-siapa  Hanya angin kosong kutemui Dan sosok badan yang telah menjauh Kututup pintu hati Kututup kembali dentuman cinta ini Hingga kukan membuka pintu ini tanpa keraguan Tanpa kepalsuan Aku merindukan dentuman

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Nikmatnya Darah Domba

Pesona gadis memang luar biasa Lemah gemulai itu cirinya Bertaburkan bedak, beroleskan lipstik merah muda Mengenakan rok dengan isi yang masih tertutup Jika sudah terbuka, bukan gadis namanya, Wanita Pulang sekolah, serigala mengadu rayu si domba “Aku akan menikahimu, percayalah padaku” Bersenggama beralaskan meja sekolah SMA Hingga darah menjadi saksi, pertempuran dimenangkan si air mani Kencan total   terjadi berkali-kali Memainkan dada, berdesahkan amarah Berbekaskan cupang di leher Bertempatkan gubuk di ladang Perkumpulan anak muda memamerkan kejantanannya Si pria tertawa dengan bangga, “Aku sudah menikmatinya” Hingga selaput dara memberi kuasa nama kepada hawa Perawan suci, bolong lonte Nikmat seksual bukan jadi alasan untuk bersatu Kelinci putih lebih merona Saatnya mengejar, meninggalkan domba yang sudah lusuh Si wanita menangis, “Aku bodoh sudah memberikannya” Sakit di da...

Senandung Benci

Aku termenung, Tumpukan kertas itu tersenyum licik  Seketika kudengar soonggok pembunuh jiwa dengan bahagianya Ah ingin kubakar saja, Bukan kertasnya Namun, siculas berambut hitam itu Digerogoti, bukan dikembangkan Dibodohi bukan diperjuangkan Ketika lubang hitam itu membesar, Akan ada pemberontakan besar dari jiwa yang diperbudak Kunikmati jeruk asam yang berasa buruk di lidahku Kukecap dan kurasakan, ini akhir dari rasa itu Biarlah kepahitan itu bersemayam di lambungku,  Kan kukembalikan kepada mereka, dalam bentuk kotoran hitam dari dosaku Selamat malam Nak. Semoga esok jiwamu kembali pulih Pulih dari ketiadaan, bangkit dari penjajahan Bangkitkan semangat marhaenismu, Hingga mereka tahu, tangan kiri masih berdisi tegak di atas sang surya

Bukan Rayuan

Kau tahu apa itu cinta? Cinta adalah kau Aku tak akan mencinta jika bukan kau  Klasik! Bual! Tapi aku memang cinta Tak percaya? Ya sudah...  Kau tahu kuku jari? Begitulah cintku padamu Akan selalu ada dan tumbuh sampai akhir hayat menjemputku Kau tahu berapa titik terdalam laut? Kuyakin kau tidak akan tahu, begitu juga denganku Kutak tahu seberapa dalam cintaku padamu Aku tidak sedang merayu Aku nyata dengan cintaku   Kau tahu berapa banyak bulir gerimis ketika hujan? Tentu tidak! Aku juga.. Kutak tahu seberapa banyak bulir cinta di hatiku   Sudah kukatakan, aku tidak sedang merayu Maafkan aku seperti binatang jalan yang memburumu Tapi aku memang cinta kau Ah, sudahlah jika tidak percaya Tapi satu hal, kutak akan mencintai jika bukan kau   Ttd Pecintamu