Langsung ke konten utama

Penjala Lelah, Katanya

Rakyat meronta bukan urusanku

Bayi terbuang bukan prioritasku

Nenek terdampar, pulau tertinggal apalagi

Aku koruptor! Penikmat uang, pecinta pajak

Tidur di balik rapat

Menyeringai di gedung DPR

Kumakan roti, ah menjijikkan

Kumuntahkan lagi, kuberi pada anak panti

Kuselipkan air di kerongkonganku

Ah bau, kubuang pada pengemis

Bahkan rambutku saja, kuberikan pada tukang cukur

Kurang apalagi?


Aku sudah bekerja, kulelah

Sejenak menikmati pijatan isteri

Nanti jika ada daki, akan kuberi pada veteran di panti jompo

Jika ada keringat, kuberi pada bayi kelaparan

Sudah ya, jangan menangis lagi

Semua sudah kuberikan, aku lelah

Banyak tugas, penuh transferan


Tugasku berat, aku koruptor!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku