Langsung ke konten utama

Postingan

Kosong

Dalam tawa aku tersenyum pahit Aku kehilangan arah..  Aku hampa Aku kosong Melihatmu adalah cara untuk membunuhku.  Merasakan sakit yang tak kunjung berhenti Ingin rasanya kumenghilang Menjauh.  Tak ada kabar.  Karena kutahu, sosokku hanyalah selingan untukmu
Postingan terbaru

Hening

 Dalam ramai kudiam membisu Menatap kosong ikan bandeng yang dimakan teman sekantorku Menghirup asap rokok dan mencicip seteguk kopi hitam Dan kau disampingku Hatiku sakit saat berada disampingmu Ditusuk sembilu, mengikis hati Sambil menyeruput kopi, kau balas chatnya Sambil tersenyum..  Sambil tertawa..  Seperti tampakmu ketika bahagia menerima pesanku Sakitnya bukan main Malah kau santai memegang hpmu Ah sialan..  Ingin rasanya kubunuh..  Bukan dirimu..  Tapi perasaanku padamu.. 

Remuk

Pemberi luka Penyayat hati Kau..  Pria yang katanya akan memberikan sudut senyum di bibirku Sosok yang katanya akan membimbingku Kau hancurkan hatiku Kau remukkan jiwaku Hingga ku tak tahu bagaimana cara tersenyum Kau bunuh perasaanku Tangis akan tentangmu setiap malamku Batinku tersiksa Yang tersisa hanya bekas kecupmu yang ada ditubuhku Ah..  Aku hancur tanpamu..  Aku gila karenamu..  Tolong aku..  Aku remuk tanpamu

Penjala Lelah, Katanya

Rakyat meronta bukan urusanku Bayi terbuang bukan prioritasku Nenek terdampar, pulau tertinggal apalagi Aku koruptor! Penikmat uang, pecinta pajak Tidur di balik rapat Menyeringai di gedung DPR Kumakan roti, ah menjijikkan Kumuntahkan lagi, kuberi pada anak panti Kuselipkan air di kerongkonganku Ah bau, kubuang pada pengemis Bahkan rambutku saja, kuberikan pada tukang cukur Kurang apalagi? Aku sudah bekerja, kulelah Sejenak menikmati pijatan isteri Nanti jika ada daki, akan kuberi pada veteran di panti jompo Jika ada keringat, kuberi pada bayi kelaparan Sudah ya, jangan menangis lagi Semua sudah kuberikan, aku lelah Banyak tugas, penuh transferan Tugasku berat, aku koruptor!

Aku Posesifmu

Bukan nikmat yang kuingini Tapi candu Bukan cinta yang kuingini tapi kau Ketika sendumu menjadi nafasku Anjing liar pun takluk  Kau tahu, matamu bagaikan biji kelopak matahari Dan jantungmu bagaikan kerikil jalanan Sakit ketika diinjak Namun menjadi menjadi pondasi onggokan semen dan bata Ah, aku suka engkau! Tidak! Aku cinta kau! Bukan juga! Aku menikmatimu Aku posesifmu