Aku termenung, Tumpukan kertas itu tersenyum licik Seketika kudengar soonggok pembunuh jiwa dengan bahagianya Ah ingin kubakar saja, Bukan kertasnya Namun, siculas berambut hitam itu Digerogoti, bukan dikembangkan Dibodohi bukan diperjuangkan Ketika lubang hitam itu membesar, Akan ada pemberontakan besar dari jiwa yang diperbudak Kunikmati jeruk asam yang berasa buruk di lidahku Kukecap dan kurasakan, ini akhir dari rasa itu Biarlah kepahitan itu bersemayam di lambungku, Kan kukembalikan kepada mereka, dalam bentuk kotoran hitam dari dosaku Selamat malam Nak. Semoga esok jiwamu kembali pulih Pulih dari ketiadaan, bangkit dari penjajahan Bangkitkan semangat marhaenismu, Hingga mereka tahu, tangan kiri masih berdisi tegak di atas sang surya