Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Senandung Benci

Aku termenung, Tumpukan kertas itu tersenyum licik  Seketika kudengar soonggok pembunuh jiwa dengan bahagianya Ah ingin kubakar saja, Bukan kertasnya Namun, siculas berambut hitam itu Digerogoti, bukan dikembangkan Dibodohi bukan diperjuangkan Ketika lubang hitam itu membesar, Akan ada pemberontakan besar dari jiwa yang diperbudak Kunikmati jeruk asam yang berasa buruk di lidahku Kukecap dan kurasakan, ini akhir dari rasa itu Biarlah kepahitan itu bersemayam di lambungku,  Kan kukembalikan kepada mereka, dalam bentuk kotoran hitam dari dosaku Selamat malam Nak. Semoga esok jiwamu kembali pulih Pulih dari ketiadaan, bangkit dari penjajahan Bangkitkan semangat marhaenismu, Hingga mereka tahu, tangan kiri masih berdisi tegak di atas sang surya

Bukan Rayuan

Kau tahu apa itu cinta? Cinta adalah kau Aku tak akan mencinta jika bukan kau  Klasik! Bual! Tapi aku memang cinta Tak percaya? Ya sudah...  Kau tahu kuku jari? Begitulah cintku padamu Akan selalu ada dan tumbuh sampai akhir hayat menjemputku Kau tahu berapa titik terdalam laut? Kuyakin kau tidak akan tahu, begitu juga denganku Kutak tahu seberapa dalam cintaku padamu Aku tidak sedang merayu Aku nyata dengan cintaku   Kau tahu berapa banyak bulir gerimis ketika hujan? Tentu tidak! Aku juga.. Kutak tahu seberapa banyak bulir cinta di hatiku   Sudah kukatakan, aku tidak sedang merayu Maafkan aku seperti binatang jalan yang memburumu Tapi aku memang cinta kau Ah, sudahlah jika tidak percaya Tapi satu hal, kutak akan mencintai jika bukan kau   Ttd Pecintamu    

Penikmat Daun Muda

Katanya hidung belang Nyatanya tidak Bulat dan hina Mukanya layak dicerca Cerutunya habis dipatahkan Agar tidak mencari lubang Pria tua tidak berotak Mencari desahan wanita muda Lelaki kasar dan bau, sangat menjijikkan Peluh keringatnya asam dan asin Kutil di lehernya menyala bak anjing mengonggong butuh hisapan Kepalanya yang sudah setengah botak lebih menjijikkan Penuh dengan luka borok Rambutnya saja sudah tidak ada Begitu juga dengan tenaganya Katanya penikmat muda Akarmu saja sudah berserabut Mudah patah dan goyah Kau bilang penikmat bibir panas Kuberi cabai agar kau kepedasan Nikmat tidak? Dasar pria mesum, berkulit keriput Sudah tua, bau tanah Ketika ku sudah di surga, kan kukunjungi kau di neraka Menonton cerutumu menikmati sarang bara api Puisi ini ditulis pada 18 Juli 2017