Langsung ke konten utama

Dentuman Cinta

Desiran pasir berkumpul di tatanan hati
Kasar dan perih
Merengkuh dinginnya air pada kulit mungilku

Kutergelitik pada bunyi ketukan
Merasakan kejutan listrik pada syaraf motorik
Membangkitkan adrenalin hawa nafsu

Tuk tuk bunyinya
Tamu tak diundang menghampiriku
Mencoba membuka karatan hati 
Meluruhkan pekatnya sarang laba-laba

Kutertegun ingin membuka
Buka tidak buka tidak, pikirku
Dentuman jantung bersuara
Kubuka pintu dengan perlahan

Tak kudapati siapa-siapa 
Hanya angin kosong kutemui
Dan sosok badan yang telah menjauh
Kututup pintu hati
Kututup kembali dentuman cinta ini
Hingga kukan membuka pintu ini tanpa keraguan
Tanpa kepalsuan

Aku merindukan dentuman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku