Langsung ke konten utama

Senandung Benci

Aku termenung,
Tumpukan kertas itu tersenyum licik
 Seketika kudengar soonggok pembunuh jiwa dengan bahagianya
Ah ingin kubakar saja,
Bukan kertasnya
Namun, siculas berambut hitam itu


Digerogoti, bukan dikembangkan
Dibodohi bukan diperjuangkan
Ketika lubang hitam itu membesar,
Akan ada pemberontakan besar dari jiwa yang diperbudak


Kunikmati jeruk asam yang berasa buruk di lidahku
Kukecap dan kurasakan, ini akhir dari rasa itu
Biarlah kepahitan itu bersemayam di lambungku, 
Kan kukembalikan kepada mereka, dalam bentuk kotoran hitam dari dosaku


Selamat malam Nak.
Semoga esok jiwamu kembali pulih
Pulih dari ketiadaan, bangkit dari penjajahan
Bangkitkan semangat marhaenismu,
Hingga mereka tahu, tangan kiri masih berdisi tegak di atas sang surya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku