Langsung ke konten utama

Penikmat Daun Muda

Katanya hidung belang
Nyatanya tidak
Bulat dan hina
Mukanya layak dicerca
Cerutunya habis dipatahkan
Agar tidak mencari lubang

Pria tua tidak berotak
Mencari desahan wanita muda
Lelaki kasar dan bau, sangat menjijikkan
Peluh keringatnya asam dan asin

Kutil di lehernya menyala bak anjing mengonggong butuh hisapan
Kepalanya yang sudah setengah botak lebih menjijikkan
Penuh dengan luka borok
Rambutnya saja sudah tidak ada
Begitu juga dengan tenaganya

Katanya penikmat muda
Akarmu saja sudah berserabut
Mudah patah dan goyah

Kau bilang penikmat bibir panas
Kuberi cabai agar kau kepedasan
Nikmat tidak?

Dasar pria mesum, berkulit keriput
Sudah tua, bau tanah
Ketika ku sudah di surga, kan kukunjungi kau di neraka
Menonton cerutumu menikmati sarang bara api


Puisi ini ditulis pada 18 Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku