Kutermenung di kala senja
Menatap pepohonan rindang dengan burung
tekukurnya
Menatap sendu, bernafas panjang
Masih ingatkah kau ketika kau bilang
cinta?
“Kamulah satu-satunya”
Kau bilang tak ada yang sepertiku
“I Love You forever”
Password cinta kita ketika saling
bercengkrama di udara
Kau bilang aku adalah perjuangan
Kau selalu hadir ketika ku sendiri di
kota mungil itu
Merasakan hangatnya pelukanmu
Melumat bibimu
Itu adalah keinginanku di masa depan
nanti
Menjadi ibu dari anak-anakmu adalah
impianku
Aku adalah wanitamu
Namun kutahu itu hanya sebuah mimpi
Ketika kau katakan cinta kita tak
berguna
Engkau mendustai cinta kita
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Tapi cinta tak bisa memilih
Cintaku tak salah
Cintamu juga tak salah
Siapakah yang salah?
Kau hiraukan aku diam-diam
Tak memberi kabar, tak memberi cinta
Hingga ku mati diam-diam
Jika kata orang sakit tapi tak berdarah
Namun cintaku berdarah
Cintaku memberi luka berbekas
Hingga kutrauma untuk bercinta
Apakah kusalah mencinta terlalu dalam?
Kutahu kita akan bersama jika kuikut
denganmu
Namun kau tetap tak mengindahkanku
Mengapa?
Salah siapa?
Cintaku?
Agamaku?
Bualanmu?
Agamamu?
Tuhanku?
Tuhanmu?
Salah siapa?
Komentar
Posting Komentar