Aku kembali menangis
Bulir mutiara rindu terjatuh di bekas kecupmu
Rasa gundah saat tak dapat kutatap kedua bola matamu
Kisah pilu yang dibangun dari cinta tak beraga
Beralaskan nekat dan bunga pengagum
Bertatap malu saat kau ucapkan, “I love you”
Hingga kujatuh ke dalam pelukmu
Bulan dan bintang adalah rekanku mengelabui rindu
Menunggu malam saat kau menyisihkan waktu untukku
Karena siang adalah pemilik sang langit dan matahari
Angin malam dan dinginnya tulang rusukku, saat bahagiaku mengadu kasih
Bercumbu di warung kopi, sambil tertawa meski hati diiris sembilu
Menikmati kisah tak berujung yang sedang berdiri tegak di atas cula badak
Riwayat cinta kilat dua insan muda, bukan kekasih kataku
Ribuan malam kita nikmati bersama
Malam buta, larut tak bergeming
Diseduhi hujan renyai bersama rindu dendamku
Dan kini, kutinggal bersama bekas gelap bayangmu
Cerita berantai, berakhir dengan getirnya pahit
Tanpa perpisahaan, tanpa isu
Jejak tubuhmu yang masih menempel, selalu membuatku risau akanmu
Cemas tak menentu
Gundah gulanna menyelimuti hariku
Sedang apa dan dimana, hai kamu lelaki kopiku
Aku rindu kamu...
Komentar
Posting Komentar