Beberapa hari yang lalu, saya membaca koran Tempo (10/04). Media ini mewawancarai salah satu tokoh yaitu Joseph Haddad, Direktur Utama Owens-Illinoos Jakarta. PT Kangar Consolidated Industries ini bergerak di bidang wadah kaca.
Perusahaan yang menghasilkan 2,3 juta botol kaca per hari ini sudah bertahan di Indonesia mulai dari tahun 1973. Sekitar 43 tahun, perusahaan ini telah menggenjot produksi yang dilakukan untuk memuaskan hasrat para pemilik utama dan rekan-rekannya yang telah berinvestasi di negara tercinta ini.
Mirisnya, kompetitor utama perusahaan ini adalah perusahaan BUMN dan PT. Iglas. Sebagaimana kita ketahui, perusahaan BUMN yang dikenal masyarakat tidak bekerja semaksimal mungkin. Contoh kecil saja, PT Merpati Nusantara Airlines yang kini jatuh terpuruk dan sembunyi entah dimana. Merugikan masyarakat dan membuat geram ketika PT yang bekerja dibidang penerbangan ini berhenti begitu saja tanpa membuat pemberitahuan.
Banyak masyarakat yang kurang mengenal anak perusahaan dari BUMN. Bahkan, BUMN yang katanya bekerja untuk rakyat ini ternyata dipegang oleh pihak asing. Menurut Sekretaris Menteri Negara BUMN (Tempo, 23/02), "85% saham BUMN sudah dikuasai oleh asing. Walaupun dikuasai asing kepemilikan tersebut tidak memiliki dampak negatif."
Apakah benar Badan Usaha Milik Negara yang dikuasai oleh pihak asing tidak memiliki dampak negatif? Membiarkan badan usaha yang satu-satunya dipercayai oleh masyarakat dijajah dan dikeruk untuk menjadi investasi pihak asing di masa tua nanti. Kecarutmarutan yang terjadi di negara komprehensif ini merupakan wujud representasi pemerintah kepada negara tercinta ini.
Pemerintah yang katanya akan melakukan restorasi agar negara ini semakin jaya di mata bangsa lain namun telah membuat negara ini semakin diinjak dan dianggap lemah. Paham demokrasi yang selalu dikoar-koarkan pemerintah lebih mepresentasikan paham etatisme. Bahkan membuat disentigrasi akan bangsa ini.
Beralih kepada PT Kangar Consolidated Industries yang mengangkat paham bahwa Indonesia adalah pasar yang luber akan sumber daya alamnya. Pasar? Perusahaan ini ternyata menganggap negara paripurna adalah pasar bukan mitra ataupun negara. Mirisnya, tidak ada pemerintah yang berkomentar akan pernyataan yang diucapkan oleh Direktur Utama Owens-Illinois ini. Bukankah pernyataan ini adalah bentuk dari anggap remeh yang mengejutkan? Hal yang tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia, bahan baku pabrik selama ini berasal dari dalam negeri. Hanya 20% sumber bahan baku didatangkan dari negara lain. Dan ironisnya, produksi dari perusahaan ini dijual untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Perusahaan yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat ini berproduksi di Indonesia, sumber daya yang digunakan berasal dari Indonesia, produksi yang dihasilkan untuk Indonesia. Namun pendapatan yang diraih untuk negara Amerika? Miris bukan? Pertanyaannya, apakah tidak ada kesadaran dari pemerintah untuk menghentikan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa lain? Apakah negara ini hanya bisa diam ketika negara lain mengeruk harta kekayaan alam Indonesia untuk kemakmuran bangsa asing namun rakyatnya sedang meminta sepercik koin logam untuk sesuap nasi?
Helmi Winda Sinamo
Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Universitas Padjadjaran
Aktivis GMNI Sumedang
Itulah Indonesia kita dengan pemerintah yang menerapkan kebijakan yang tidak tepat yang hanya diperuntukkan untuk segelintir orang-orang saja...kita bagaikan pendatang di negari sendiri
BalasHapusBanyak hal yang harus dibenahi di republik ini sarinah, tapi bukan berarti kita harus menyerah gitu aja kan?
BalasHapusIngat, revolusi tidak mungkin terjadi dalam 1 atau 2 tahun. Bisa jadi 1 atau 2 generasi bahkan bisa lebih.
Lebih banyak lagi baca, pasti bisa lebih mendalam lagi kajiannya.
Mantap sarinah, semoga bisa ditularkan kepada yang lain :D