Langsung ke konten utama

Ketika Capres Merampas..

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke kota Bogor. Sepanjang perjalanan saya terkejut melihat banyaknya spanduk dan pamflet yang bertebaran untuk mendukung beberapa calon presiden dari konvensi partai Demokrat dan partai lainnya. Sungguh miris karena pamflet dan spanduk yang bertebaran tersebut tidak berada pada tempat yang seharusnya. Jalanan yang seharusnya digunakan penjaja kaki kini dirampas dengan seenaknya. Belum lagi dengan rusaknya mata karena harus melihat banyaknya pamflet mereka yang menyilaukan.

Tindakan yang seronok ini sepertinya tidak mengundang perhatian dari warga Bogor. Namun saya sebagai pengunjung kota ini merasa terusik dengan tindakan menyuarakan nama mereka kepada masyarakat. Selain itu, banyak pamflet dan spanduk dari calon presiden yang tersebar masih konvensi dari partai mereka. Mereka belum ditetapkan sebagai calon tunggal dari partai yang mengharumkan nama mereka. 

Menyuarakan suara mereka sebagai calon presiden hal yang sangat wajar. Hal yang membuat tidak wajar ketika jalan yang menjadi hak penjaja kaki dirampas dengan pamflet mereka yang cukup banyak. Gebrakan yang dilakukan untuk mengusung mereka sebagai calon presiden dengan menggunakan spanduk dan pamflet tidak hanya berada pada suatu daerah saja namun di berbagai tempat. 

Mungkin bagi warga kota Bogor hal ini tidak menganggu. Namun apakah rerumputan dan pemandangan yang seharusnya dinikmati mereka harus diwarnai dengan nama dan foto calon presiden di sepanjang jalan? Apakah warna kehijauan yang seharusnya mereka dapat dari dedaunan untuk kesehatan mata mereka tidak dapat dinikmati karena tertutupi oleh banyaknya pamflet untuk mendukung mereka sebagai calon presiden di negara tercinta ini? 

Mereka yang dinobatkan sebagai calon presiden dari konvensi partai mereka, sudah melakukan pemerkosaan hak-hak yang tidak disadari oleh warga kota ini. Memberikan selebaran, dukungan dengan menggunakan pamflet atau spanduk bisa saja dilakukan. Namun harus dilingkupi oleh sikap etis yang tidak membuat jalanan menjadi semakin sembrawut karena setiap jalan harus dipampang wajah mereka. Ketika menjadi 'calon presiden' saja mereka sudah merampas hak rakyat, apalagi kalau sudah menjadi presiden. Maka pertimbangkan matang-matang siapa calon presiden yang akan dipilih. Jangan melihat dari gelagat mereka yang mempromosikan mereka sehebat mungkin menjadi seorang presiden. Namun lihatlah mereka dari eksebilitas mereka, kinerja mereka yang pernah dilakukan untuk bangsa dan negara, tataplah mereka dengan kesungguhan hati apakah mereka dekat dengan rakyat atau 'berpura-pura' dengan rakyat. Gunakan hakmu untuk memilih calon presiden yang tepat untuk memimpin bangsa dan negara ini selama empat tahun kedepan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku