Langsung ke konten utama

Batas


Ketika jarak bukanlah belenggu
Namun hati yang terbentur rasa
Ketika jemari kaki berjarak sejengkal
Tak ada sepatah kata
Mengatakan hai saja tidak

Dan perlahan menjauh
Tak berbincang, tak berkata
Berbisik dalam hati
Entah apa masalahnya

Teman perjuangan, tangan kanan ketika berkelana
Dan rasa teman menghilang menjadi sebuah kekosongan
Tak memiliki arti
Dan tak mengerti

Sebuah rasa yang tak terbersit
Hubungan bukan, sahabat jua tidak

Dan aku bertanya tanya
Ketika batas menjadi sebuah kecanggungan
Melapisi dua insan muda yang berkelana di negeri orang
Bersatu dalam dekapan meja
Menatap bintang yang sama
Melahap ikan serupa

Bodohnya
Ketika penghalang tanpa rasa menjadi batas
Tak berasa, tak bermakna
Hingga pertemanan sirna dengan batas kosong

Helmi Winda Sinamo



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku