Langsung ke konten utama

Tiga Bulan


Malam bersama kita lewati di tengah keramaian
Merasakan hangatnya sentuhan kulitmu mendekapku
Hangat mentari kudapat darimu
Hingga kuberfotosintesis dari nafasmu

Sinar matamu mengartikan cinta
Cinta tulus berarti
Kuberpura tak mengerti
Tak menahu
Karena kutakut terjatuh

Kuingin meraih namun tanganmu bukan milikku
Miliknya yang berada di ratusan jarak
Hatimu untukku, hubungan untuknya

Kutak ingin jadi kedua
Karena kutahu hati tak bisa dibagi
Biarkan saja
Tiga bulan kita lewati bersama dengan rasa berpura
Berpura dengan kenyataan
Berpura dengan kepalsuan

Baru saja dua minggu dilewati bersama
Masih ada ribuan detik bersamamu
Berjuta kisah denganmu

Tiga bulan waktu yang cukup singkat
Apakah yang kan terjadi?
Kumenutup hati menutup mata
Meski kutahu rohmu untukku

Maafkan aku
Aku takut terluka
Aku takut tersiksa
Biarkan aku dengan kebodohanku
Biarkan aku dengan masa laluku

Biarkan aku dengan rasa tertutup
Hingga kumenyadari bahwa kukan kehilanganmu
Dan kembali terluka untuk kesekian kalinya

By: Helmi Winda Sinamo
Kayangan Estate, Riau, Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku