Langsung ke konten utama

SURAT KEPADA PRESIDEN

Indonesia, 23 April 2014


Kepada YTH
Calon Presiden Republik Indonesia
Di tempat


            Selamat pagi dan salam sejahtera,
            Kepada calon Bapak Presiden yang terhormat, kami sangat senang jika melihat Bapak terpilih menjadi  Presiden Republik Indonesia. Kami berharap Bapak menjadi Presiden yang lebih baik dibandingkan Presiden sebelumnya. Kami juga yakin visi dan misi yang telah Bapak suarakan akan Bapak realisasikan terutama dibidang pendidikan.
Pemerintah telah menetapkan APBN untuk sektor pendidikan sebesar 20% namun tidak ada implementasi dari seruan yang telah terucapkan. Kami melihat banyak sekali anak-anak yang tidak sekolah karena ekonomi lemah bahkan banyak yang menjadi punggung keluarga mereka demi mencari sesuap nasi. Mereka harus menjadi pengemis, pengamen, penjual rokok dan masih banyak lagi. Sangat miris melihat keadaan anak-anak yang seharusnya berada di kursi sekolah namun faktanya, mereka berada di jalanan mencari uang. Banyak di antara mereka menjadi anak terlantar, menjadi berandalan dan melakukan tindakan kriminal bahkan, banyak di antara mereka yang menjajakan tubuh mereka demi mendapatkan uang. Kerapkali mereka mencuri bahkan merampok orang. Di sisi lain, akibat tekanan ekonomi lemah banyak di antara mereka yang jatuh pada pergaulan bebas, menggunakan obat-obatan terlarang, merokok bahkan membunuh orang.
            Sungguh menyedihkan bukan? Banyak di antara mereka bahkan hampir semua di antara mereka ingin sekali sekolah. Di lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka iri melihat orang yang sekolah. Melihat orang lain menggunakan seragam sekolah, pergi menuntut ilmu, bercanda-ria bersama teman-teman di sekolah dan bertemu dengan guru adalah impian mereka juga. Faktanya, hal itu hanyalah sebuah impian belaka. Ketika orang lain berada pada jenjang pendidikan, mereka menggunakan pakaian udik dan kotor. Memakai pakaian yang sobek karena ketidakmampuan membeli pakaian baru. Banyak juga di antara mereka harus menipu orang banyak demi mendapatkan koin receh. Mereka menggunakan alibi pembangunan rumah ibadah, menolong kaum yatim piatu. Untuk menarik perhatian banyak orang, banyak di antara mereka mengecat badan mereka dengan cat yang berwarna aluminuim. Dari sisi kesehatan, dampaknya mereka rentan terkena penyakit kulit bahkan kanker kulit.  Miris bukan? Ketika negara asing berusaha memfokuskan pendidikan pada penerus bangsanya, Indonesia sedang menangis karena melihat penerus bangsanya sedang bersusah payah mencari uang demi sesuap nasi.
            Program yang disuarakan sekolah 9 tahun sepertinya hanya sebuah wacana belaka karena tidak ada implementasi yang terbukti pada lingkungan sekolah. Bahkan telah terdengar program sekolah 12 tahun yang akan diadakan oleh pemerintah. Masalahnya ialah, program 9 tahun yang dicanangkan belum terealisasi dengan tuntas, namun telah tercipta program sekolah 12 tahun untuk anak bangsa. Program yang dicanangkan sebenarnya sangat baik untuk mendukung semangat belajar anak Indonesia. Namun mahalnya biaya pendidikan di Indonesia tidak akan mampu membuat anak Indonesia yang memiliki semangat belajar dapat bersekolah 9 tahun, apalagi 12 tahun. Dengan perekonomian yang lemah, program yang ingin dilaksanakan pemerintah sepertinya hanya akan membuang uang negara untuk sebuah program yang sia-sia.
Mengingat isi Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 34 disebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara,”. Namun, penerapan Undang-Undang tersebut belum terealisasi melihat banyaknya anak terlantar karena tidak bisa mengenyam jenjang pendidikan. Maka, rasanya menjadi solusi yang kurang bijaksana jika peraturan “dilarang memberikan sejumlah uang kepada peminta-minta ataupun pengamen” diterapkan. Peraturan yang telah tercipta itu telah diberlangsungkan pada berbagai daerah, seperti DKI Jakarta yang  mempunyai Perda Nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum pasal 40 c, dilarang memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen dan pengelap mobil, dimana pelanggar pasal tersebut dapat dikenai ancaman pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari atau denda paling sedikit Rp 100 ribu dan paling banyak Rp 20 juta. Selain itu, kotamadya Bandung  jua mempunyai Perda Nomor 03 tahun 2005 pasal 39a tentang  larangan menggelandang/mengemis di tempat dan di muka umum serta fasilitas sosial lainnya serta pasal 39c tentang larangan mengamen, mencari upah jasa dari pengelapan mobil dan usaha lainnya di simpang jalan, lampu merah. Dimana pelanggar akan terkena ancaman pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan atau denda paling banyak Rp 50 juta. Sungguh menyedihkan melihat tragedi yang terjadi pada lingkungan jalanan yang hingga sekarang tidak memiliki benang merah sebagai solusi permasalahan yang ada. Ketika negara tidak mampu menjangkau tangan anak Indonesia yang sedang mengulurkan tangan, pemerintah juga memberi peraturan yang membuat mereka semakin sulit mencari uang untuk sesuap makan. Bagaimana mereka dapat bersekolah ketika ‘pekerjaan’ mereka untuk menghasilkan uang dianggap haram?
            Katanya negara kita melindungi segenap rakyat dari buta huruf. Katanya negara kita melindungi kalangan fakir miskin dan anak terlantar. Katanya negara kita punya sumberdaya yang kaya tapi rakyatnya tetap miskin. Sudah seharusnya rakyat bisa mengenyam pendidikan yang semestinya untuk pembangunan bangsa dan negara. Agar negara mampu keluar dari zona kemiskinan adalah penting bagi negara untuk memperhatikan sektor pendidikan.
Kami berharap, Bapak sebagai calon Presiden Republik Indonesia mendengar seruan hati anak Indonesia. Anak-anak yang terlantar di sepanjang jalan sangat ingin sekolah, namun karena lemahnya ekonomi mereka, mimpi mereka hancur berkeping-keping. Kami yakin, Bapak Presiden beserta kabinet yang telah dibentuk akan menjangkau tangan mereka yang telah meronta meminta tolong. Harapan anak bangsa tertumpu kepada kepimpinan Bapak sebagai Presiden yang telah terpilih. Anak Indonesia yakin Bapak akan memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia yang begitu rumit.
            Demikianlah surat saya tulis, sebagai pertimbangan Bapak jika terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia pada periode selanjutnya untuk menanggulangi masalah pendidikan yang mahal bagi kaum ekonomi lemah yang sudah berlangsung untuk sekian lamanya. Atas perhatian Bapak, Kami ucapkan sekian dan terima kasih.
           

Jatinangor, 23 April 2014

Ttd

Rakyat Indonesia




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Manis di Secangkir Kopi Pahit

Kuseruput kopi pahit panis di tengah langit sore yang menangis Kembali kuteguk sembari memandang perih keluar jendela Masih terngiang kalimat manismu "Hai Adekku." "Aku penggemar setiamu." "Adeku, sudah makan?" Rayuan indah yang menghujam jantungku Membujuk dan menggelitikku Kalimat sederhana yang membuka gerbang hatiku Lambat laun namun pasti, kumenyukai semua yang ada padamu Tampak urat nadimu yang timbul ketika menyentuh jemari tanganku Senyumanmu yang membuatku diam membeku Kecup manismu masih membekas di bibirku Dekap hangat badanmu memberikan rasa nyaman di dadaku Kau.. Ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah kumiliki Waktu memberikanku kesempatan untuk mencintaimu Menikmati proses manisnya cinta dan pahitnya rindu Diam seribu bahasa, menangis sendu, adalah ungkapan rinduku yang tertimbun saat kau jauh dariku Aku bukanlah wanita sempurna yang mampu mengisi kekuranganmu Kini, segala rasa yang kita...

Bual

Spontan kutertegun Mendengar pernyataan cinta yang sederhana Sebuah kata klasik aku sayang kamu Untaian kata yang menarik tapi menusuk Aku tak pernah menyangka Jika kumendengar degungan itu dari pria bertuan sepertimu Aku benci dengan segala keadaan yang ada Aku benci dengan rasa ini Karena kutahu itu semua bual

Bunga Luka

Kau ibaratnya bunga Memiliki kelopak indah nan cantik Berwarna pelangi harum pertiwi Berbatang kokoh bak batu Watak keras penuh keegoisan Berdaun hijau dan berulat Berakar panjang dan tak teraih Kau berduri, perih jika tertusuk Memberi luka dan berdarah Menghasilkan air mata dan meringis Namun kau berwarna Merah darah, putih kertas Kau indah tapi sakit Kau bunga lukaku