Pemilu 9 April 2014 telah dilaksanakan
dengan baik pada beberapa daerah, meskipun masih menuai kontraversi. Pada
beberapa daerah, dilakukan pemilihan ulang dikarenakan banyaknya warga yang
memilih lebih dari sekali. Di sisi lain, hasil quick count yang
telah dilaksanakan membuat beberapa caleg yang berimpian menduduki kursi
singgasana Indonesia, kini berada pada rumah perisitirahatan ‘caleg stress’.
Bahkan ada caleg yang berteriak sambil membuka pakaian dan berharap uang yang
telah diberi dapat dikembalikan.
Sungguh miris melihat perilaku para calon
pemimpin yang seharusnya menjadi panutan, yang nyatanya kini seperti anak-anak
yang menangis karena mainannya direbut oleh orang lain. Jika melihat
kecarut-marutan yang terjadi, sistem money politic masih
menjajahi perilaku pemimpin yang ada di Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan
pemimpin yang telah menang pada pemilihan umum kemarin merupakan hasil
konspirasi antara masyarakat karena adanya hubungan ‘timbal balik’ yang akan
diberikan.
Ketika
pemilihan umum yang berlangsung, masih banyak warga yang memilih calon
legislatif dengan asal-asalan. Hal itu dikarenakan mereka tidak mengenal siapa
yang dipilih dan mereka hanya menggunakan hak suara mereka karena adanya seruan
untuk tidak menjadi ‘golput’. Meskipun demikian, banyak juga masyarakat yang
memilih berdasarkan pandangan mereka terhadap calon legislatif dengan menilik
visi dan misi yang diucapkan. Selain itu, mereka juga memilih dari masa lalu
caleg yang tidak pernah terjerat kasus hukum dan bersih. Sehinggga mereka
yakin, Indonesia dapat dipimpin dengan baik dan tegas oleh pemimpin yang baik
pula. Disisi lain pihak yang menjadi golongan putih, mereka beralasan tidak
memilih dikarenakan, mereka tidak mengenal siapa calon legislatif yang
terpampang di kertas suara. Daripada memilih dengan asal-asalan, lebih baik
tidak memilih. Karena jika memilih asal-asalan, sama saja dengan mengotori nama
baik negara Indonesia. Kaum golongan putih, hanya bisa berharap kepada Presiden
yang akan dipilih pada bulan Juli nanti. Siapapun pemimpin yang akan terpilih,
dapat memberikan nuansa kepimpinan baru yang tidak terkesan lamban dan bertele-tele.
Menilik
begitu banyaknya masalah yang terjadi pada hampir semua sektor di Indonesia,
masyarakat membutuhkan Presiden yang mengerti dengan keadaan bangsanya dan
cepat tanggap dengan permasalahan yang terjadi. Seperti pernyataan
yang berbunyi, “ Soekarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh
saja tersungkur, tetapi dia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.”.
Jiwa pimimpin yang seperti inilah yang diidam-idamkan masyarakat Indonesia.
Seorang pemimpin yang memiliki jiwa nasionalisme dan akan tetap berjuang dalam
peliknya masalah yang terjadi.
Beralih
kepada masalah yang terjadi pada lingkungan bernegara, masyarakat merasa tokoh
pemimpin yang ada kurang menjangkau tangan mereka. Ketika rumah ibadah di beberapa tempat ditutup secara paksa oleh
pemerintah daerah dengan alasan yang tidak logis, pasal 28E UUD 1945
sepertinya hanya menjadi simbol peraturan belaka. Melihat masih banyaknya,
perusahaan asing yang mengenggam pertambangan sumber daya alam di Indonesia,
terlihat ketidaktegasan pemimpin yang kurang bisa menjadikan Indonesia menjadi
negara mandiri. Ketika koruptor tertawa sambil menggoyangkan kakinya,
masyarakat Indonesia harus menjadi seorang pengemis untuk mendapatkan koin receh
demi seuap nasi. Biaya hidup yang mahal, kaum wanita harus menjajakan dirinya
untuk mendapatkan uang dan memberi nafkah kepada keluarganya. Tekanan ekonomi
yang lemah mengharuskan kaum pria bekerja susah payah mencari uanh hingga
merampok teman sendiri. Ketidakmampuan untuk mengalami masalah ekonomi, membuat
banyak masyarakat mati kelaparan bahkan bunuh diri.
Sungguh
ironi melihat ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi pada negara
paripurna ini. Indonesia yang katanya negara hukum, ternyata hanya sebuah semboyan
belaka. Negara yang katanya sudah merdeka, nyatanya masih dijajah bahkan
dikuasai oleh negara asing. Masyarakat berharap siapapun pemimpin yang terpilih
dapat mengabulkan harapan untuk memerangi ketidakadilan yang terjadi pada bangsa
Indonesia. Seorang pemimpin yang tegas dan berani untuk melawan tekanan dari
negara asing. Tokoh yang memiliki jiwa rakyat dan mampu memberikan solusi yang
tepat kepada masyarakat sehingga bangsa Indonesia dapat tersenyum kembali,
seperti cerahnya matahari.
Penulis Helmi Winda Sinamo
Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian,
angkatan 2012
Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Universitas Padjadjaran
Komentar
Posting Komentar